Asa Kecil Warga Kampung Nelayan Cilincing di Pemilu 2019
08 Maret 2019, 09:00:02 Dilihat: 333x
Jakarta, CNN Indonesia -- Pesta demokrasi lima tahunan tinggal menghitung pekan. Pada 17 April mendatang, rakyat akan menggunakan hak pilihnya di tempat pemungutan suara.
Pemilu tahun ini berbeda dengan pemilu sebelumnya di mana pemilihan calon legislatif akan berbarengan dengan pemilihan presiden.
Dua pasangan calon presiden/wakil presiden akan bertarung: Joko Widodo-Ma ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
Sementara 14 partai tingkat nasional akan bertarung berebut suara untuk caleg mereka yakni Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Gerindra, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Golongan Karya, Partai Nasional Demokrat, Partai Garuda, Partai Berkarya, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Persatuan Indonesia, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Solidaritas Indonesia, Partai Amanat Nasional, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Demokrat, Partai Bulan Bintang dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia.
Sementara untuk pemilu di Aceh,selain 14 parpol nasional ada empat partai lokal yang akan berlaga yakni Partai Aceh, Partai Nanggroe Aceh, Partai Daerah Aceh, dan Partai SIRA.
Di tingkat nasional berbagai survei digelar untuk memprediksi siapa yang bakal menang Pemilu. Sejauh ini banyak lembaga survei yang menjagokan Jokowi-Ma ruf bakal menang Pilpres.
Sedangkan untuk Pemilu Legislatif, sejumlah lembaga menjagokan PDIP kembali menang, disusul oleh Gerindra, Golkar, PKB dan Demokrat.
Memilih saat pemilu adalah menitipkan aspirasi warga ke partai politik dan kepada sosok capres/cawapres. Banyak harapan warga dititipkan kepada calon pemimpin bangsa.
Namun bagi masyarakat kelat bawah, tak muluk harapan mereka. Asa mereka masih berkutat pada dientaskannya masalah-masalah domestik.
CNNIndonesia.com mencoba memotret harapan-harapan warga kampung nelayan di Cilincing, Jakarta Utara terkait Pemilu 2019. Sebagian dari mereka sudah menetapkan pilihan, namun ada pula yang masih ragu dan khawatir pada janji kosong politikus.
Uus mengaku sudah menetapkan hatinya pada salah satu parpol besar untuk dipilih di Pemilu nanti. Alasannya sederhana, parpol tersebut menurutnya banyak yang memilih. Setidaknya itu kabar yang kerap dibicarakan di lingkungannya.
"Cuma ikut-ikutan saja, gimana yang terbaik aja. Gimana nanti kalo yang rame itu ya ikut aja," kata pria 71 tahun itu.
Uus mengaku tak tahu berapa jumlah parpol yang akan ikut Pemilu. Ia hanya tahu parpol yang selama ini sudah lama ikut pemilu atau yang sering disebut di televisi.
Partai politik yang baik bagi Uus adalah yang sering dibilang baik oleh lingkungannya.
"Kalau rame pada bilang bagus, ya sudah. Karena saya lama di laut bukan di darat," kata Uus.
Kelak siapapun yang menang Pemilu, Uus berharap ia dibantu seperti yang selama ini pernah didapatkan rekannya sesama nelayan. Bantuan yang diharapkan berupa kartu nelayan untuk kemudahan mendapat bantuan seperti jala dan mesin kapal.
Selama ini ia sudah mencoba beberapa kali mendaftar untuk mendapat kartu nelayan, namun tak kunjung mendapatkannya.
"Dari tahun 1973 (jadi nelayan) saya enggak pernah dapat bantuan," katanya.
Terpaksa Uus harus berutang jika ingin mendapat jaring atau mesin kapal baru.
Parpol apapun yang menang, siapapun yang jadi Presiden, Uus hanya berharap rakyat kecil seperti dirinya diperhatikan.
Blusukkan pejabat diharapkan menyentuh daerah pelosok juga, tak cuma daerah yang memang sudah ramai. Dengan begitu, orang miskin yang tinggal di pedalaman, juga bisa tersentuh.
Selama ini menurutnya, banyak bantuan yang tidak tepat sasaran. Banyak nelayan yang sebenarnya mampu namun tetap mendapat bantuan perahu.
Selain itu Uus berharap nantinya harga solar turun dan harga kebutuhan pokok tak lagi mahal.
"Perahu ini aja saya utang bank harian sangking pengen punya perahu besar," katanya.
Harapan Indonesia Sejahtera
Sama seperti Uus, petugas kebersihan Tempat Pelalangan Ikan (TPI) Cilincing, Agustina mengaku sudah menetapkan pilihannya pada satu partai.
Partai yang kelak dipilih tersebut dinilai Agustina menawarkan hal yang lebih baik ketimbang sekarang.
Kondisi saat ini dinilai perempuan 55 tahun itu masih jauh dari harapan. “Sekarang masih belum maju, banyak pengangguran,” kata Agustina.
Selain itu, pemimpin partai yang dipilihnya nanti dinilai Agustina punya ketegasan.
Ia berharap kelak jika parpol jagoannya itu menang, rakyat kecil seperti dirinya bisa lebih diperhatikan kesejahteraanya. “Apalagi di sini banyak nelayan miskin,” katanya.
Para nelayan itu diharapkan Agustina banyak dibantu misalnya dengan diberi bantuan kapal agar bisa lebih jauh mencari ikan dan subsidi solar.
Ke depan, Indonesia diharapkan Agustina bisa menjadi negara maju. Ia membandingkan dengan Taiwan di mana suaminya pernah bekerja di sana. Di Taiwan, kata Agustina, nelayan dibantu negara mendirikan koperasi agar lebih sejahtera.
Karena itu TPI di Taiwan menurutnya sangat maju, bersih dan nelayannya sejahtera.
“Semoga Indonesia sejahtera siapapun pemimpinnya,” kata Agustina.
Darhim (Nelayan)
Harapan sederhana pada proses politik Pemilu 2019 juga diungkapkan Darhim, nelayan Cilincing.
“Harapannya bisa memakmurkan rakyat kecil, intinya itu. Pokoknya yang dipilih bisa melihat rakyat kecil seperti nelayan kayak saya,” kata Darhim.
Ia berharap harga solar turun agar biaya melaut nelayan bisa lebih terjangkau. Selama ini solar adalah biaya pokok bagi nelayan melaut. Jika harga solar naik, dipastikan penghasilan nelayan juga melorot.
Terkadang, sudah seharian melaut, ikan yang didapat tak menutupi biaya operasional.
Selain solar, Darhim juga harus memikirkan biaya untuk membeli mesin kapal setiap periode tertentu.
Darhim belum bisa memastikan parpol mana yang dipilihnya nanti di bilik suara 17 April 2019.
“Masih ragu,” ujar pria asal Indramayu ini.
Sementara untuk calon presiden, Darhim aja meminta satu syarat, jika nanti terpilih bisa dekat dengan rakyat. Dengan begitu, pemimpin bisa tahu apa yang dibutuhkan oleh rakyatnya.
Emi Sukaemi (Pedagang Kerang)
Emi Sukaemi juga mengaku belum memutuskan parpol mana yang akan dipilhnya nanti. Sedikit apatis, Emi meragukan parpol atau presiden nanti yang menang bisa membawa kesejahteraan rakyat kecil.
Ia mengaku kecewa dengan apa yang didapat meski telah memilih di pemilu sebelumnya.
Parpol yang baik bagi Emi sederhana yakni memperhatikan rakyat kecil dan tidak hanya janji di mulut saja.
“Kadang-kadang setelah jadi, apa yang dijanjikan tidak 100 persen,” kata Emi.
Parpol bisa saja menang, presiden bisa saja terpilih, tapi rakyat kecil bagi Emi nasibnya tak berubah.
Pedagang kerang hijau di Cilincing, Emi Sukaemi menyebut janji politikus kerap tak bisa terpenuhi 100 persen. (CNN Indonesia/Shaskya Thalia)
“Saya berdoa siapapun pilihannya, (rakyat) lebih sejahtera dari sebelumnya, enggak ada pengangguran. Kalau yang sudah kerja jangan sistem kontrak, kasihan,” kata perempuan yang pernah jadi guru honorer ini.
Emi juga mengeluhkan kondisinya saat ini di mana penghasilan dari berdagang kerang tidak pasti. Apalagi saat ini nelayan di Cilincing terkadang sulit mendapat kerang.
Namun ia bersyukur masih mendapat pekerjaan saat masih banyak penggaguran di negeri ini.
Sumber : cnnindonesia.com